Perikanan & Peternakan

Ilustrasi Ternak Sapi

Jejak Sejarah Sapi Potong: Dari Zebu India Hingga Sapi Lokal Unggul

Mengulik Jejak Sapi Potong Nusantara: Kisah Kedatangan Para "Bule" India.

DAFTAR ISI

Pernahkah Anda bertanya-tanya, dari mana sih asal-usul sapi potong yang kini kita rawat? Jangan salah, ceritanya seru, lho! Sapi-sapi lokal kita ini ternyata punya sejarah panjang yang berliku, bahkan sampai melibatkan para ilmuwan dan pedagang dari luar negeri di masa lalu.

Jadi, kalau kata para peneliti, mayoritas sapi lokal kita itu adalah keturunan Zebu. Apa itu Zebu? Zebu ini adalah sebutan untuk sapi-sapi yang berasal dari India. Menurut dua peneliti, Payne dan Hodges, Zebu ini sudah "numpang" ke Indonesia sejak abad ke-2, barengan sama masuknya kebudayaan Hindu. Keren, kan? Ternyata sapi kita ini punya akar sejarah yang dalam.

Nah, cerita jadi lebih spesifik lagi di abad ke-18. Berdasarkan catatan seorang tokoh Belanda bernama Kontrolir Rothenbuhler, ada kapal-kapal yang berlabuh di Surabaya membawa sapi-sapi Zebu dari India. Bukan sembarang sapi, lho, tapi sapi-sapi "premium" seperti Mysore, Ongol, Hissar, Gujarat, dan Gir. Sapi-sapi ini dibawa oleh para pedagang lokal atas pesanan Kontrolir Van Andel. Misi mereka? Bikin program kawin silang atau cross-breeding antara sapi India ini dengan sapi Jawa dan sapi Madura.

Sayangnya, program itu enggak berjalan mulus. Hasil persilangan ternyata enggak sesuai dengan harapan petani. Mereka butuh sapi yang kuat, tangguh, dan "badak" untuk membajak sawah dan ladang. Sapi-sapi hasil persilangan tadi dianggap kurang gahar. Alhasil, programnya distop. Mungkin petani zaman itu mikirnya, "ah, enggak ada bedanya," atau "ribet, mending pakai sapi yang sudah ada."

Era Baru: Ketika Pemerintah Kolonial Turun Tangan

Pemerintah kolonial Hindia Belanda sadar betul betapa pentingnya peran sapi bagi masyarakat. Akhirnya, pada tahun 1905, mereka membentuk Burgelijke Veeartsenijkundige Dienst (BVD), sebuah dinas yang fokus mengurus peternakan. Ini semacam Kementerian Pertanian-nya zaman dulu.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1908, BVD enggak mau kalah. Mereka kembali mengimpor sapi dari India untuk disebar di beberapa wilayah:

  • Sapi Ongole buat Pulau Jawa.

  • Sapi Gujarat buat Pulau Sumba.

  • Sapi Hissar/Benggala buat Pulau Sumatera.

Sang Bintang: Sapi Ongole Jadi Primadona

Dari ketiga jenis sapi impor itu, ternyata yang paling cocok dan sukses berkembang biak adalah Sapi Ongole. Mereka bisa beradaptasi dengan iklim dan pakan lokal, seakan-akan merasa seperti di rumah sendiri. Berkat kesuksesan ini, BVD enggak pakai lama. Pada tahun 1909 dan 1911, mereka memutuskan untuk "menggenjot" impor sapi Ongole lebih banyak lagi. Tujuannya cuma satu: memperbaiki mutu sapi di Indonesia.

Catatan terakhir di tahun 1911 menunjukkan pembelian yang lumayan besar: total 608 ekor sapi. Angka ini terdiri dari 42 ekor sapi pejantan, 496 ekor sapi betina, dan 70 ekor anakan Ongole. Sapi-sapi ini enggak cuma ditempatkan di Jawa, tapi juga dikirim ke Sumba. Program ini dikenal dengan nama "Sumba Kontrak", yang resmi dimulai pada tahun 1912.

Sejak saat itulah, sapi Ongole menjadi cikal bakal sapi-sapi potong lokal kita. Melalui persilangan dan adaptasi selama bertahun-tahun, lahirlah varietas-varietas sapi lokal yang kita kenal sekarang.


Dari Mana Sapi-Sapi Ini Datang?

Sapi-sapi yang kita kenal saat ini, seperti Sapi Brahman, adalah hasil pengembangan dari Sapi Zebu di Amerika. Di Indonesia, hasil persilangan sapi Ongole dengan sapi lokal melahirkan Sapi Peranakan Ongole (PO). Sapi PO ini dikenal memiliki keunggulan, yaitu:

  • Daya tahan terhadap lingkungan tropis yang baik.

  • Pertumbuhan yang cepat dan postur tubuh besar.

  • Produksi daging yang berkualitas.

Strategi Modern untuk Beternak Sapi Unggul

Melihat sejarah ini, kita bisa mengambil pelajaran berharga. Peternakan sapi yang sukses di Indonesia butuh strategi yang tepat. Berikut beberapa tips jitu yang bisa Anda terapkan, mengacu pada cerita para "pendahulu" kita:

  1. Pilih Bibit Unggul: Jangan asal-asalan. Pilihlah bibit sapi yang punya potensi genetik bagus. Contohnya, sapi PO yang merupakan hasil adaptasi panjang di Indonesia. Kalau mau lebih "ngebut," bisa coba sapi-sapi impor seperti Brahman Cross atau Limousin yang dikenal punya pertumbuhan pesat.

  2. Perhatikan Pakan dan Nutrisi: Sapi yang sehat adalah sapi yang cukup gizi. Pastikan pakan yang diberikan bervariasi, mulai dari hijauan berkualitas, konsentrat, hingga suplemen vitamin dan mineral.

  3. Manajemen Kesehatan yang Ketat: Rutin periksa kesehatan sapi Anda. Vaksinasi dan pemberian obat cacing berkala itu wajib hukumnya. Jangan biarkan penyakit "mampir" dan merugikan bisnis Anda.

  4. Kandang yang Nyaman: Sapi butuh tempat istirahat yang bersih dan nyaman. Pastikan ventilasi kandang baik dan drainase lancar. Kandang yang kotor dan lembap bisa jadi sarang penyakit.

  5. Coba Teknik Kawin Silang (Cross-Breeding): Belajar dari pengalaman BVD di masa lalu, cross-breeding itu bisa jadi cara ampuh untuk mendapatkan sapi dengan sifat-sifat unggul. Misalnya, menyilangkan sapi lokal yang tahan penyakit dengan sapi impor yang punya bobot badan besar.

  6. Pemanfaatan Teknologi: Di era digital ini, banyak banget teknologi yang bisa membantu peternak. Mulai dari aplikasi manajemen ternak, pakan ternak modern, sampai alat-alat kesehatan canggih.

  7. Jangan Berhenti Belajar: Ilmu peternakan itu terus berkembang. Ikutlah seminar, pelatihan, atau gabung komunitas peternak. Saling berbagi ilmu itu penting banget.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, kita bisa memastikan sapi-sapi kita tumbuh sehat, bobotnya optimal, dan bisnis peternakan kita pun semakin "moncer." Sejarah membuktikan, para peternak yang sukses adalah mereka yang mau belajar, beradaptasi, dan tak berhenti berinovasi.

Referensi

  1. John Berek.
  2. Kami Cinta Peternakan

Blog ini didukung oleh pembaca. Kami dapat memperoleh komisi afiliasi ketika Anda bertransaksi di tautan yang ditampilkan di situs ini. Info lanjut, kolaborasi, atau kerjasama, bisa menghubungi: 0813-8229-7207 | Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..